TWITTER

OPINI
LINK TERKAIT
Renovasi Pura, Hancurkan Peradaban Bali
Ditulis oleh : Putu Suryasih | 29 September 2017 - 15:11:21 WIB

 Diangkatnya tema itu, kata GPS dilatarbelakangi maraknya kegiatan renovasi pura di Bali yang mengandung nilai historis. Jika tidak dilakukan penanganan, ia khawatir peradaban Bali akan segera hancur, sebab sejarah tidak bisa diulang. "Salah satu kekuatan dari pilar-pilar bangsa adalah kebudayaan. Sayang sekali peninggalan masa lalu yang sangat bagus kemudian harus dibongkar dengan alasan renovasi karena bantuan dari pemerintah. Bahkan ada yang dibongkar dulu baru mengajukan bantuan, tanpa memahami nilai historis, kualitas dan betapa agungnya karya-karya itu,'' kata dia di sela sosialisasi.

Menurutnya, dana yang mengalir ke daerah yang jumlahnya cukup besar jangan digunakan untuk merenovasi pura. Ia menyarankan, lebih baik dilakukan restorasi atau konservasi. "Renovasi itu membongkar semua, sehingga nilai historisnya hilang. Kita lihat misalnya di Roma, Itali, mereka sangat disiplin menjaga bangunan warisan leluhur. Susunan bata bangunan di biarkan sesuai aslinya, alhasil wisatawan makin melonjak. kalau di bali malah sebaliknya,; Terangya.

Ia menekankan, pemerintah seharusnya pro aktif (hadir) melakukan proses penyadaran, pendataan dan perlindungan terhadap bangunan kuno, sebab di Undang-Undang cagar budaya yang baru menggunakan pola stelsel (pendaftaran), dan kawasan cagar budaya bisa di manfaatkan, berbeda dengan Undang-Undang cagar alam sebelumnya.; Kalau ngasi bantuan harus di kasi persyaratan, enggk bole merusak aslinya,; pintanya.

Sementara itu, menurut narasumber Sugi Lanus, kabupaten atau kota sebali harus membentuk tim ahli cagar budaya (TACB) , sesuai amanat UU terkait. Menurutnya TACB terdiri dari sekelompok ahli pelestarian dari berbagai bidang ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan rekomndasi, penetapan, pemeringkatan dan penghapusan cagar budaya (kepada mentri wali kota / bupati dan gubernur).

Lebih lanjut, kata Sugi, tim itu bisa di angkat oleh mentri, gubernur, bupati, walikota sesuai kewenangnya. Sedangkan untuk jumlah personilnya ia menyarankan 9 - 15 orang untuk tim ahli nasional, provinsi 7 - 9 orang dan kabupaten atau kota 5  - 7 orang, dengan masa kerja dua tahun dan dapat di angkat kembali. "Sebelum TACB di bentuk, dan bekerja setahun melakukan pemetaan cagar budaya se-Bali, semua bangsos harus di muratorium untuk memberikan waktu TACB bekerja dan mengeluarkan hasil pemetaan cagra buday,; Harapnya.

Dalam kesempatan yang bersama, narasumber I Made Bakti Wiyasa menerangkan, situs (pura, candi,bebaturan,bulakan, beji dan sebagainya) merupakan warisan leluhur yang wajib di lestarikan. situs, lanjutnya, merupakan jejak asli (data primer) karena merupakan jejak asli peradaban leluhur di masa lampau."Merubah situs artinya merubah jejak asli leluhur, setiap situs merupakan pengetahuan dan tiap elemen dari situs itu adalah kode kode dari pengetahuan leluhur yang di mandalakan untuk sebuah tujuan di suatu daerah berdasarkan posisinya," ungkapanya.

Masih menurut bakti , hendaknya situs di lestarikan karena merupakan estafet pengentahuan yang di titipkan leluhur pada generasiny. sehingga, rehab pura sebaknya bijaksana dan dasarnya adalah tulus ikhlas, karena merubah tanpa pernah memahamniya merupakan sebuah keteledoran generasi pewari. "Jejak peradaban Bali ini dampaknya akan sangat luar biasa bagi fungsi situs sekadi sujati mula," tutupnya.

Sumber :

Fajar Bali Jumat 22 September 2017

JAJAK PENDAPAT
AGENDA TERBARU
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 57400 kali