TWITTER

OPINI
LINK TERKAIT
Persaingan Caleg Menguat, Awal Tahun 2019 Tensi Politik Makin 'Memanas'
Ditulis oleh : Putu Suryasih | 02 Januari 2019 - 15:12:50 WIB

 Menjelang hari pencoblosan Pileg dan Pilpres 2019 dipastikan tensi politik makin memanas. Bahkan, awal tahun 2019 "membaranya" suhu politik mesti menjadi tantangan generasi milenial, khususnya bagi pemilih pemilih untuk menentukan pemimpinnya.

Seperti dipertegas Politisi Partai Hanura, Gede Pasek Suardika dalam di sela diskusi akhir tahun yang digelar di Aula Sarwa Guna II LPMP Provinsi Bali, Sabtu (29/12) mengatakan perlunya membangun mental generasi muda Bali dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Pembangunan karakter dianggap perlu sebagai bagian dari refleksi 2019.

Pasalnya, ke depan peran generasi muda begitu penting dimana anak mudanya aksesnya lebih kuat dan bila generasi muda Bali lebih memilih menikmati keadaan, maka mereka akan tertinggal. Termasuk saat menentukan pilihannya di Pileg dan Pilpres 2019, karena setiap kontestan akan betul-betul menyiapkan diri agar menarik bagi para pemilih milenial yang agak berbeda jauh dengan Pemilu sebelumnya. "Kita perlu menyiapkan diri, keluar dari zona aman, zona nyaman untuk siap berkompetisi. Meski agak lucu banyak yang terkesan memaksakan untuk mendekati para pemilih dari generasi milenial. Tapi sekarang ya harus seperti itu, "sebut Pasek yang juga Anggota DPD RI Perwakilan Bali ini.

Lantas di sisi lain GPS juga mengungkapkan menjelang pileg 2019 mendatang dan memasuki fase kampanye, mesti dipergunakan secara maksimal. Apalagi para pemilih yang notabene konstituen para caleg saat ini tidak lagi berkutat soal program, namun lebih kepada karya konkrit. 'Kunci daripada semua itu kan pemilih, jadi bagaimana para caleg bisa mengeksplore potensi yang dimiliki, " sebut mantan Ketua Komisi III DPR RI itu. Tidak bisa dipungkiri menurut GPS saat ini banyak figur-figur bagus yang muncul, baik dari pertahanan ataupun generasi muda yang kerap dikenal sebagai generasi milenial.

"Ingat ya, demografi pemilih memang perempuan lebih banyak sedangkan generasi milenial juga banyak sekitar tiga puluh persen," ucap salah satu tokoh sentral Bali ini, sembari berujar untuk mendekati generasi milenial tidak bisa dengan cara konservatif jadi mesti masuk dalam dunia mereka. "Sekarang aja saya melihat banyak caleg yang berusaha masuk dalam dunia milenial walaupun kadang terlihat lucu, seolah mereka memaksakan diri, "katanya tersenyum. Tapi menurut GPS hal itu wajar-wajar saja dilakukan, bagaimana bisa berkomunikasi andai frekwensinya tidak sama, inikan namanya upaya menarik simpati, jadi sah-sah saja.

"Disinilah kemampuan politisi diuji bagaimana ia harus mampu menyamakan frekwensi dengan konstituennya,"imbuh GPS. Bahkan di kalangan konstituen "emak-emak" GPS menyebut mereka cenderung sebagai "pesaja" artinya, kalau sudah klik maka akan benar-benar memilih, tapi untuk masuk ke dunia emak-emak tidak semudah membalik telapak tangan. "Potensi emak-amak ini sangat besar dan tingkat daya tahan elektabilitas dia untuk memilih ini tinggi untuk bergeser lagi agak susah, tapi untuk menentukan pilihan agak lambat. Namun ketika sudah klik, suamipun dilibas, bahkan cenderung bisa dipengaruhi, "tuturnya.

Ia menampik jika dikatakan caleg perempuan dalam pileg mendatang hanya sebagai pelengkap saja. Justru diungkapkan banyak caleg perempuan yang telah mempersiapkan diri "Kualitas mereka sudah mumpuni kok, tidak lagi bisa dikatakan hanya sebagai pelengkap. Yang penting bagaimana antar caleg melakukan kompetisi yang sehat saja sehingga kualitas tetap terjaga," tutupnya. Namun kekuatan partai politik pada Pileg 2019 ternyata tidak menjadi unsur utama penentu seorang caleg bisa lolos menjadi anggota dewan Utamanya di Bali, kekuatan figur yang muncul dari kekuatan geopolitik di wilayah desa pakraman justru dinilai akan mendapatkan dukungan penuh untuk mampu mewakili para pemilihnya dilegislatif.

Seperti diungkapkan politisi senior dari Puri Peguyangan Denpasar, A.A. Ngurah Gede Widiada,SH , secara terpisah menegaskan pergerakan caleg makin menguat menjelang pencoblosan 17 april 2019 mendatang. Bahkan, politik saat ini tidak saja berdimensi demokrasi namun juga berdimensi wilayah. Widiada yang juga dipercaya sebagai Ketua Kerta Desa, Desa Pakraman Peguyangan menjelaskan Desa Pakraman mengemban tugas kapital budaya yang bernilai religius. Ditengah nuansa demokrasi menghadapi Pileg 2019 maka geo politik akan menjadi kekuatan kapital politik. Kondisi inilah yang membuat masyarakat memilih wakil rakyatnya bukan hanya semata melihat dari sisi partai namun sejauh mana eksistensi dan track record seorang figur telah pegabdian kepada masyarakat.

"Apapun partainya kalau itu dipandang putra terbaik warga pakraman layak diberikan dukungan dalam kontek geopolitik, Karena politik sekarang berdimensi demokrasi, "jelas Widiada. Masyarakat Desa Pakraman secara geopolitik ingin memiliki wakil rakyat di seluruh tingkatan kini menjadi sebuah kewajaran yang berkembang sebagai bagian dari kecerdasan dalam berpolitik. Sudah menjadi hakekat urusan memilih berlandaskna hak dan ideologi masing-masing individu, namun lebih jauh dalam konteks demokrasi kekinian apapun partai yang dijadikan kendaraan sepanjang menjadi bagian dari warga (putra daerah, red) akan menjadi salah satu pilihan terbaik.

Kondisi ini menggeser pandangan politik yang terjadi sebelum tahun 1965 dimana politik dilihat sebagai momok dan masyarakat takut dengan politik. Namun pada ruang demokrasi yang saat ini mengglobal politik sudah menjadi pemahaman sebagai tempat untuk mengabdi dan menyampaikan gagasan. Caleg DPRD Kota Denpasar Dari Partai Nasdem Dapil Denpasar Utara ini menguraikan, Desa Pakraman merupakan infrastruktur sosial untuk melahirkan tokoh-tokoh untuk dijadikan politisi. Sehingga hampir bisa dipastikan warga yang tidak pernah ngayah baik di desa adat maupun desa dinas tidak pantas dipilih karena sudah barang tentu tidak akan memahami berbagai hal yang sepantasnya sebagai wakil rakyat.

Politisi karbitan yang tidak didukung kekuatan geopolitik harus diwaspadai masyarakat, agar suara rakyat tidak mudah dibeli ditengah prakmatisme sebagian pemilih yang dihadapkan pada persoalan sosial. "Pasti dia tidak akan memiliki nafas apa yang akan diperjuangkan. Ujug-ujug baru datang bicara kepentingan Bali, didesa saja tidak pernah ngayah," sentil Caleg DPRD Kota Denpasar dari Partai Nasdem ini. Sebagai kader Partai Nasdem, Widiada juga mengajak generasi muda saat ini mulai mengisi diri dan mengabdi untuk daerah minimal dilingkungan sendiri bila bercita-cita ingin duduk di eksekutif maupun legislatif. Fenomena inilah yang kemudian sudah membuka peluang bagi Caleg yang akan bertarung pada pileg 2019 untuk bisa menunjukkan bukti dan pantas dipilih.

Widiada mencontohkan, untuk di Desa Pakraman Peguyangan saja kekuatan geopolitik sudah mampu menghadirkan dua anggota legislatif di tingkat Kota Denpasar. Bahkan hampir bisa dipastikan bila sentimen geopolitik menguat diPileg 2019 maka desa Pakraman Peguyangan bisa menciptakan tiga wakil rakyat di DPRD Kota Denpasar. "Lingkup Desa Pakraman Peguyangan ada 21 banjar. Ada 1400 KK dan 16 ribu pemilih, DPR Kota tiga bisa kalau berfikir geopolitik," tegasnya sembari mengatakan demokrasi tidak selalu linier dengan dukungan geopolitik ditengah nuansa demokrasi yang kini mulai memanas.

Sumber :

Pos Bali Senin, 31 Desember 2018

JAJAK PENDAPAT
AGENDA TERBARU
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Browser :
  • OS : Unknown Platform
  • Dikunjungi sebanyak : 84634 kali